Berita Terbaru

Layak Kunjung

Advertisement Singkat Url


Masukkan link url panjang di kolom, klik shrink dan copy hasilnya. Dan viola!!

    Jejak Website

    GRUP SEWA JUAL BELI

    Ikuti Situs Via Email

Alas Tidur Sayyidul Ambiya' Wal Mursalin


Suatu hari ‘Sayyidina Umar bin Khaththab R.A. menemui Sayyidina Rasulillah SAW di kamar beliau, lalu ‘Sayyidina Umar mendapati beliau tengah berbaring di atas sebuah tikar usang yang pinggirnya telah lapuk. Jejak tikar itu membekas di belikat beliau, sebuah bantal yang keras membekas di bawah kepala beliau, dan jalur kulit samakan membekas di kepala beliau. Di salah satu sudut kamar itu terdapat gandum sekitar satu gantang. Di bawah dinding terdapat Qarzh (Semacam tumbuhan untuk menyamak kulit).

Air mata ‘Sayyidina Umar bin Khaththab r.a. meleleh. Ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi pimpinan tertinggi umat Islam itu. Sayyidina Rasulillah SAW melihat air mata ‘Sayyidina Umar r.a. yang berjatuhan, lalu bertanya “Apa yang membuatmu menangis, Ibnu Khaththab?” ‘Sayyidina Umar r.a. menjawab dengan kata-kata yang bercampur-aduk dengan air mata dan perasaannya yang terbakar, “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas di belikat Anda, sedangkan aku tidak melihat apa-apa di lemari Anda? Kisra dan Kaisar duduk di atas tilam dari emas dan kasur dari beludru dan sutera, dan dikelilingi buah-buahan dan sungai-sungai, sementara Anda adalah Nabi dan manusia pilihan Allah!”

Lalu Sayyidina Rasulillah SAW menjawab dengan senyum tersungging di bibir beliau, “Wahai Ibnu Khaththab, kebaikan mereka dipercepat datangnya, dan kebaikan itu pasti terputus. Sementara kita adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?”

‘Sayyidina Umar menjawab, “Aku rela.” (HR. Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad)


Terbitkan Komentar

Tidak ada komentar:

Berikan Tanggapan Anda